Senin, 28 September 2015

Pengalaman pernikahan bugis (part 1)

Alhamdulillah, akhirnya bisa juga berbagi tulisan tentang pernikahan. Tiga bulan yang lalu tepat hari Ahad, 7 Juni 2015 saya dan suami telah melaksanakan ijab kabul. Acara berlangsung dengan adat Bugis. Banyak yang mengatakan sih adat Bugis itu ribet. Jujur saja, memang ribet sih tapi kalo ingin menjalaninya dengan senang hati akan mudah kok. Saya asli Makassar, keluarga saya menikah menggunakan adat Makassar. Jika dibandingkan dengan adat Makassar, ada Bugis dalam prosesi pernikahan lebih ribet dikitlah, hehehe. Suami saya asli Bugis dan saya tidak punya pilihan lain selain memakai adat Bugis...

Saya mulai cerita ya, prosesi demi prosesi...

Pertama, ketika suami saya sudah punya niat dan telah mantap secara lahir batin untuk menikah, dia datang ke rumah. Sebelumnya saya sudah ngomong sama seisi rumah kalo di doi mau datang "bicara baik"... Keluarga menentukan hari dan suami saya datang ke rumah. Topiknya sih menanyakan niat, rencana pernikahan, dan kesiapan batin dan materi. Pada tahap ini "uang panai" sudah dibicarakan. Sepahaman saya uang panai itu uang hantaran pihak lelaki untuk pihak perempuan. Sepemahaman saya lagi uang panai itu digunakan untuk prosesi prosesi pernikahan,misal mappettuada, akad nikah, dan resepsi. Setahu saya, uang hantaran ini ada di setiap adat kok. Memberatkan? Menurut saya tidak jika pihak lelaki pandai bernegosiasi dengan baik. Tambahan lagi, jika pihak lelaki tidak menginginkan acara yang mewah, misal prosesi mappettuada dan akad nikah pihak lelaki hanya membawa sedikit keluarga jadi "uang panai"juga bisa ditekan. Jadi, di keluarga saya ga ada kok seperti di berita-berita kalo uang panai itu harus ratusan juta, mungkin keluarga saya lebih moderat kali ya. Balik ke prosesi pertama ini ya, setelah pertemuan selesai, suami saya balik ke rumahnya untuk membicarakan hasil pertemuan. Setelah dicapai kesepakatan, dilanjutkan dengan prosesi kedua...

Prosesi kedua ini dinamakan ma'manu'-manu' dalam bahasa Bugis (jangan tanya ya apa artinya, hehehe saya ga tau) dikeluarga saya menamakan lamaran. Hari itu keluarga besar saya (keluarga dekat banget) telah berkumpul di rumah. Keluarga suamipun datang hanya lima orang. Persiapan keluarga saya ada di makanan berat dan kue bugis yang di tata di dalam bosara. Oiya, karena kesepakatannya memakai adat Bugis, semua yang hadir juga memakai sarung sutra yang melambangkan adat Bugis. Mungkin sepele sih, tapi itu mungkin informatif apalagi bagi kalian yang bukan suku Bugis :) Pembicaraan dalam prosesi ini seputar menanyakan keinginan melamar dari pihak lelaki, penetapan hari pernikahan, penentuan mahar, "peresmian jumlah uang panai".. Jarak antara prosesi pertama dan prosesi kedua ini bisa lama bisa cepat tergantung kesiapan kedua belah pihak.. Waktu saya sih jaraknya 4 bulanan... Lanjut ke prosesi ketiga ya

Prosesi ketiga ini dinamakan mappettuada... Kalo kakakku ngomong sih peresmian lamaran, hehehe. Acaranya lumayan besar. Persiapannya lumayan banyak soalnya dari pihak lelaki akan datang sekitar 70 orang. Saya ceritakan ya satu per satu. Dari pihak perempuan, persiapannya 3 pasang penjemput tamu berbaju bodo, 1 pasang bunga sibali (bunga sibali itu orang yang berpakaian pengantin, bertugas untuk menjemput tamu juga), makanan berat, kue bugis (untuk disajikan dan digunakan untuk membalas hantaran dari pihak lelaki). Oiya, saya didandani memakai baju bodo (boleh juga memakai kebaya sih) dengan dandanan setengah lengkap (minus dadasa' dan bando). Dari pihak lelaki, pengantar bosara (tempat kue bugis) memakai baju bodo, bosara berjumlah ganjil (waktu itu keluarga suami saya membawa 15 buah bosara) yang salah satunya berisi nasi ketan dan gula merah yang bermakna harapan keeratan dan manis pernikahan, sebuah cincin lamaran, dan uang panai. Hal yang dibicarakan dalam prosesi ini adalah peresmian lamaran, pertemuan keluarga besar, dan pemakaian cincin lamaran. Sebelum prosesi pemakaian cincin, saya hanya berada di dalam kamar sampai keluarga suami (waktu itu tante-nya) masuk ke kamar lalu memakaikan cincin. Inilah pertanda lamaran resmi keluarga suamiku. Uang panai juga diserahkan pada keluarga dan yang paling seru adalah keluarga yang belum menikah berebut untuk memegang uang panai itu. Katanya sih berkah agar dimudahkan juga menuju pernikahan..




Jumat, 06 Juni 2014

Salam terakhir...

Lewat sudah...
Sudah kututup pagar rumahku, pagar yang selalu kau lalui...
Lalu lalang tanpa pernah berkomitmen kapan kau harus masuk ke rumahku...
Hanya terdiam dalam ego...
Lima tahun Lima bulan..
Enam puluh lima bulan...
Jangan kau tanya aku apa arti menunggu..
Jangan kau salahkan aku, pagar itu sangat sering kau terlantarkan...
Masuk mendobrak, keluar membanting...
Telah kusediakan kunci hari ini..
Tidak bisa lagi seenaknya kau masuk lalu meninggalkan...
Bahkan untuk mengintip secelahpun tak ada ruang...
Kan kuizinkan yang lain masuk dengan itikad baik untuk duduk di ruang tamuku...
Ruang yang tak pernah kau sentuh...
Walau kau mendambanya, aku tak butuh orang dengan khayal tanpa pembuktian...
Baiklah, kuucapkan salam terakhir ini sebelum kumengunci pintu...

Minggu, 01 Juni 2014

Datanglah keberanian...



 Keberanian, saya melihatmu mengintip dibalik jantungku..
Kemarilah, kemarilah, beri hatiku kekuatan..
Sudah cukup kau bersembunyi, berlarilah mendekap hatiku, jangan pergi..
Sudah 909 hari dia menunggumu, keberanian..
Akan kuingatkan, 909 hari, bahkan untuk hari pun sudah mendekati ribuan, pernahkah kau bayangkan jika menghitung berapa jam dia harus menunggumu?
Juni 2014 siap menyambutmu di depan pintunya, dia sudah bosan bermain dengan ketidaktegasan, kau tahu itu..
Ketidaktegasan memaksanya berdiam diri, kau berjalan sendiri, lalu dia termenung menatap lirih..
Sudahlah, kemarilah, waktu itu, November 2011 kau terlalu terlena bermain dengan angannya..
Kali ini bermukimlah, ketuklah pintunya, temanilah dia, ia mungkin sangat membutuhkanmu..
Kuatkanlah dia, terlalu banyak kemungkinan buruk yang ada di ruangnya pada Juni 2014..
Kehilangan, kesedihan, kemarahan, sangat mungkin dia alami…
Temanilah dia mengambil keputusan besar itu..
Temanilah, karena bahkan saya sendiripun terlalu sulit berbuat apa-apa untuk hatiku ini…

Senin, 26 Mei 2014

Further Evidence on the Ethics of Managing Earning: An Examintaion of the Ethically Related Judgements of Shareholders and Non-Shareholders



Earning Management isu etika yang mungkin paling penting dihadapi profesi akuntansi. Earning management dilakukan berdasarkan dua motivasi, yaitu meningkatkan harga saham dan meningkatkan bonus manajemen. Individu yang memperoleh manfaat dari perilaku tidak beretika atau dipertanyakan tidak akan menilai tindakan itu negatif seperti orang lain yang tidak memperoleh manfaat dari tindakan mereka. Contoh : Penelitian Kaynama. Penelitian ini memakai gagasan interpretasi egosentrik dari etika pada kontek evaluasi pengguna laporan keuangan dari earning management.
Paper ini menyediakan bukti pada pertimbangan etika earning management oleh pihak eksternal. Peneliti mengikuti model analisis yang dibangun oleh Dye untuk mengidentifikasi situasi dimana pengguna laporan keuangan  tertentu diuntungkan dari earning manajemen. Dye’s Model Shareholder akan meminta manajemen untuk melakukan earning management jika dapat menguntungkan perusahaan. Nonshareholder yang tidak mempunyai kepentingan dalam pembelian saham di masa depan akan memilih laba yang tidak di-manage dibandingkan laba yang di-manage.
Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian adalah menyediakan bukti pada pertimbangan etika dari manajemen oleh pihak eksternal terhadap earning manajemen
Rumusan Masalah
  1. Apakah shareholder dan nonshareholder berbeda dalam menilai aspek etika dari earning management?
  2. Apakah shareholder dan nonshareholder berbeda dalam memberikan penilaian  mengenai kerugian yang akan ditanggung dari earning management?
Hipotesis
H1a :     Shareholder diekspektasikan untuk menilai etika manajemen laba kurang tidak etis ketika dilakukan untuk tujuan perusahaan sebagai lawan dari tujuan keuntungan individu.
H1b :    Meskipun manajemen laba ditujukan untuk perusahaan atau keuntungan individu tidak akan mempengaruhi penilaian etika non-shareholder.
H2a :     Shareholder diharapkan untuk menilai kemungkinan yang lebih kecil bahwa para shareholder akan mengalami kerugian secara finansial ketika manajemen laba dilakukan untuk perusahaan dibandingkan jika untuk keuntungan individu.
H2b :    Meskipun manajemen laba ditujukan untuk perusahaan atau keuntungan individu tidak akan mempengaruhi penilaian non-shareholder tentang kemungkinan bahwa pemegang saham akan mengalami kerugian secara finansial.
Variabel
Independen = User Class, Earning Management Intent, dan Earning Management Activity
Dependen = Penilaian Etika Keputusan Manajer dan Kemungkinan pemegang saham mengalami kerugian
Hasil
Hipotesis 1a terdukung walaupun terdukung hanya pada untuk scenario keuntungan operasi.
Hipotesis 1b terdukung mengindikasikan bahwa tujuan earning management tidak signifikan untuk tiga skenario.
Hipotesis 2a tidak terdukung walaupun keseluruhan rata-rata untuk tujuan perusahaan lebih rendah dibandingkan keseluruhan rata-rata untuk tujuan individu.
Hipotesis 2b terdukung untuk semua scenario.

Attitudes of Students and Accounting Practitioners Concerning the Ethical Acceptability of Earnings Management



Pendidikan etika dalam kurikulum akuntansi sangat ditekankan. Oleh karena itu, topik dalam etika dan akuntansi perlu untuk diidentifikasi untuk pengembangan kurikulum. Earning management salah satu topik dalam etika dan akuntansi karena dalam earning management terdapat ambiguitas etika dalam parktiknya. Earning management dapat menimbulkan kecurigaan terhadap integritas manajer dan akuntan yang disebabkan oleh hasil akuntansi yang dilaporkan dapat mereka pengaruhi. Dalam artikel ini earning management dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu perubahan metode akuntansi dan perilaku yang melibatkan keputusan operasional. Perubahan metode akuntansi terbagi lagi menjadi dua bagian, yaitu manipulasi akuntansi dan manipulasi persediaan. Perilaku yang melibatkan keputusan operasional terbagi menjadi dua bagian, yaitu perubahan pada beban operasi dan pendapatan operasi. Penelitian ini menyajikan data mengenai akseptabilitas mahasiswa dan praktisi terhadap earning manajemen serta jenis dan tipe apa yang tidak disetujui secara etika oleh mahasiswa dan praktisi.
Tujuan Penelitian
Menyajikan hasil dari survei untuk mahasiswa undergraduate, mahasiswa MBA, dan praktisi akuntansi berkaitan dengan tingkah laku pada akseptabilitas etika terhadap earning management.
Kontribusi Penelitian
  Dengan mengetahui attitude terhadap earning management, maka bagi pendidik dapat memberikan arahan pendidikan etika.
  Bagi asosiasi bisnis atau profesi dapat membantu mereka dalam menyusun peraturan, standar dan program pendidikan mengenai earning management.
Rumusan Masalah
Apakah mahasiswa undergraduate, mahasiswa MBA, dan praktisi akuntansi menganggap berbagai aktivitas earning management itu dapat disetujui secara etika ?
Hipotesis
Ada perbedaan persepsi akseptabilitas etika dari setiap jenis aktivitas earning management pada mahasiswa undergraduate, mahasiswa MBA, dan praktisi akuntansi


Hasil
Dari hasil uji one-way Anova, earning management jenis perilaku yang melibatkan keputusan management dapat diterima secara etika sedangkan earning management yang melibatkan manipulasi akuntansi tidak diterima secara etika.
Grup (mahasiswa dan praktisi) berbeda dalam menilai manipulasi akuntansi dimana praktisi akuntansi berada diurutan pertama yang tidak menerima secara etika tindakan earning management ini diikuti mahasiswa S1, dan mahasiswa MBA. Untuk manipulasi persediaan, grup juga memberikan respon yang berbeda dalam menilai manipulasi persediaan dimana praktisi akuntansi tetap berada diurutan pertama yang tidak menerima secara etika tindakan ini diikuti mahasiswa MBA dan mahasiswa S1. Respon yang terbalik terdapat pada perilaku yang melibatkan keputusan operasi. Pada earning management untuk perubahan beban operasi, mahasiswa S1 berada diurutan pertama yang tidak menerima secara etika tindakan tersebut diikuti oleh mahasiswa MBA dan praktisi akuntansi. Pada perubahan pendapatan operasi, tidak terjadi perbedaan antara ketiga grup ini. Hal ini mungkin mengindikasikan bahwa semua grup responden setuju dalam sedikit penemuan masalah dengan penggunaannya.
Implikasi
  1. Ketika mahasiswa dan praktisi mempunyai sensitivitas etika untuk praktik earning management yang dipertanyakan, tingkatan sensitivitasnya tidak merata.
  2. Kurikulum akuntansi dan MBA perlu untuk menekankan pada tanggung jawab etika manajer dan akuntan untuk malaporkan informasi keuangan secara adil dan tidak terdistorsi.
  3. Cara dan bagian mana dari kurikulum mengarahkan implikasi etika earning manajemen perlu untuk diarahkan.
  4. Praktisi akuntansi perlu untuk lebih sadar terhadap kesempatan manipulasi earning yang dilaporkan dengan manipulasi keputusan operasi


An Analysis of International Accounting Codes of Conduct



Judul               : An Analysis of International Accounting Codes of Conduct
Penulis             : Curtis Clements, John D. Neill, O. Scott Stovall
Journal             : Journal of Business Ethics (2009) 87 : 173-183
Latar belakang Adanya ekonomi global menuntut adanya harmonisasi kode etik secara internasional. Harmonisasi dibutuhkan karena lambatnya akuntan dalam melewati batasan internasional. Hal ini disebabkan oleh budaya, institusi, filosofi, dan rasa nasionalis yang mempengaruhi tujuan, pendekatan, dan hal yang terangkum dalam kode etik. Oleh karena itu, kode etik IFAC digunakan sebagai dasar kode etik akuntansi nasional di semua negara.
Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menilai sejauh mana kode etik organisasi akuntansi nasional yang bervariasi sejalan dengan revisi kode etik IFAC. Penelitian ini juga bertujuan untuk menguji pilihan organisasi akuntansi nasional dalam mengadopsi kode IFAC yang dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi
Kontribusi Penelitian
1.      Penelitian ini unik karena analisis tahap pertama penulis membandingkan kode etik akuntansi internasional mereka dengan model kode IFAC.
2.      Artikel ini menyajikanhal baru dari penelitian terdahulu karena penulis menguji beberapa keputusan organisasi akuntansi nasional dalam mengadopsi kode IFAC
3.      Penulis melakukan penilaian empiris dari hipotesis keputusan untuk mengadopsi kode IFAC yang dikaitkan dengan tingkat pengembangan sosial-ekonomi suatu negara.
Rumusan masalah
1.      Sejauh mana anggota IFAC mengadopsi kode etik IFAC sebagai kode etik akuntan di negara mereka?
2.      Apa pengaruh dari tingkat sosial ekonomi pada keputusan untuk mengadopsi bentuk kode etik IFAC?
Hipotesis Penelitian ini menghipotesiskan “organisasi akuntansi nasional pada negara yang memiliki tingkat ekonomi lebih rendah cenderung kurang mengadopsi Kode IFAC dibandingkan organisasi akuntansi nasional pada negara yang memiliki tingkat ekonomi tinggi.
Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan survey. survey dilakukan pada anggota IFAC dan asosiasi organisasi yang terdaftar di website IFAC. Suvey terdiri dari dua bagian, yaitu (1) anggota dan asosiasi menyediakan informasi berdasarkan standar negara dan kerangka peraturan; (2) pertanyaan survey secara spesifik ditujukan apakah organisasi telah mengadopsi model kode etik IFAC. Data awal diperoleh dari website IFAC 158 anggota dan data sosial ekonomi anggota IFAC dari Bank Dunia sebanyak 153 anggota pada tahun 2007. Jadi sampel yang digunakan adalah 153 negara.

Hasil Sampel organisasi dibagi menjadi empat bagian, yaitu negara pendapatan rendah, menengah ke bawah, menengah ke atas, dan pendapatn tinggi. Akan tetapi, pembahasan selanjutnya menggunakan hanya pembagian negara rendah dan tinggi. Pada hasil empiris, penulis menyajikan beberapa tabel yang berisi negara-negara dan kode etikanya. Pada tabel I terdapat 42 organisasi sudah mengadopsi kode etik IFAC tanpa modifikasi, dimana mayoritas termasuk dalam kelompok pendapatan per kapita rendah. Pada tabel II terdapat tiga puluh delapan organisasi mengadopsi dengan modifikasi. Pada tabel III terdapat 34 organisasi yang mayoritas berada pada kondisi berpendapatan tinggi memilih untuk merencanakan harmonisasi kode etik mereka dengan kode etik IFAC. Pada tabel IV terdapat tujuh belas negara yang memutuskan tidak mengadopsi kode etik IFAC, tetapi berniat untuk mengurangi perbedaan antara kode etik mereka dengan kode etik IFAC. Pada tabel V terdapat 27 organisasi sama sekali tidak berniat untuk mengadopsi kode etik IFAC. Pada tabel VI, penulis membandingkan persentase negara yang berpendapatan tinggi yang mengadopsi kode etik IFAC dan negara yang berpendapatan rendah yang mengadopsi kode etik IFAC. Hasil menunjukkan bahwa kode etik IFAC lebih banyak yang diadopsi oleh negara-negara yang berpendapatan rendah (70.37%) sedangkan negara-negara berpendapatan tinggi yang mengadopsi kode etik IFAC lebih rendah (41.4%)   
Kesimpulan Kesimpulan penelitian ini adalah negara-negara berpendapatan lebih rendah cenderung mengadopsi kode etik IFAC dibandingkan negara-negara yang berpendapatan tinggi. Menurut saya, perbandingan ini kemudian kurang dapat diperbandingkan. Hal ini disebabkan jumlah negara berpendapatan tinggi lebih banyak dibandingkan dengan negara berpendapatan rendah. Sebaiknya penulis mengambil secara random sample negara yang mengadopsi dan tidak mengadopsi kode etik IFAC berdasarkan jumlah pendapatannya sehingga jumlah negara berpendapatan tinggi dan rendah menjadi berimbang. Tak hanya itu, jika penulis hanya ingin membandingkan negara berpendapatan tinggi dan negara berpendapatan rendah sebaiknya negara-negara hanya dibagi menjadi pembagian ekstrim, berpendapatan rendah maupun berpendapatan tinggi.